Pendalaman Pasar Uang di Indonesia
Kebijakan Pendalaman Pasar Keuangan
Kebijakan pendalaman pasar keuangan diarahkan pada upaya peningkatan peran pasar keuangan dalam mendukung kesinambungan pertumbuhan ekonomi. Hal ini ditempuh karena pasar keuangan yang dalam, likuid, efisien, inklusif, dan aman, akan dapat mendorong pasar keuangan berperan maksimal dalam mendukung pembiayaan ekonomi. Dengan karakteristik pasar keuangan yang dalam dan likuid, maka alokasi modal akan lebih efisien sehingga dapat menjadi basis bagi pertambahan sumber pembiayaan ekonomi yang baru. Karakteristik pasar keuangan tersebut yang ditambah dengan inklusif dan aman, juga dapat meredam tekanan (shocks) bila terjadi gejolak di pasar keuangan. Secara keseluruhan, variasi instrumen pasar baik untuk pembiayaan maupun pengelolaan risiko dalam pembiayaan jangka panjang, serta investor yang beragam akan berkontribusi positif dalam memberikan alternatif sumber pembiayaan ekonomi. Bank Indonesia bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kementerian Keuangan melalui Forum Koordinasi Pembiayaan Pembangunan melalui Pasar Keuangan (FK- PPPK) telah menyusun Strategi Nasional Pengembangan dan Pendalaman Pasar Keuangan (SN-PPPK) guna mempercepat pendalaman pasar keuangan.
Strategi nasional menjadi komitmen bersama ketiga otoritas untuk mengoptimalkan peran pasar keuangan sebagai sumber pembiayaan pembangunan. Selaras dengan SN-PPPK, kebijakan pendalaman pasar keuangan Bank Indonesia pada 2018 difokuskan pada upaya peningkatan efisiensi pasar uang dan pasar valas guna turut mendorong pembiayaan jangka panjang sebagai sumber pembiayaan ekonomi. Beberapa strategi yang ditempuh ialah pengembangan instrumen untuk penguatan aktivitas penggunaan lindung nilai, pengelolaan likuiditas/sumber pendanaan jangka pendek, serta penguatan kredibilitas pasar. Kebijakan juga ditempuh untuk mendukung pengembangan investasi jangka panjang di pasar modal. Selain itu, penguatan peran pasar keuangan turut ditempuh melalui perluasan inovasi instrumen untuk pembiayaan proyek infrastruktur. Strategi kebijakan Bank Indonesia tersebut senantiasa dikoordinasikan dengan OJK dan Kementerian Keuangan dalam FK-PPPK.
Kebijakan pendalaman pasar keuangan yang ditempuh berdampak positif pada perkembangan pasar keuangan di 2018. Di pasar valas, berbagai upaya sosialisasi telah berkontribusi pada peningkatan volume transaksi derivatif di pasar valas dalam rangka lindung nilai terhadap risiko nilai tukar. Kinerja positif pasar valas juga disertai dengan efisiensi pasar valas yang tetap terjaga, sebagaimana tercermin dari bid-ask spread transaksi spot dolar Amerika Serikat (AS) terhadap Rupiah yang berada dalam level rendah dan volume transaksi yang cukup tinggi. Sementara di pasar uang, perkembangan pasar repo dapat mendukung pengelolaan likuiditas Rupiah di jangka waktu yang lebih panjang. Terkait dukungan terhadap pembiayaan infrastruktur, koordinasi Bank Indonesia melalui FK-PPPK bekerja sama dengan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berhasil mendorong tercapainya kesepakatan pembiayaan proyek infrastruktur strategis. Kesepakatan pembiayaan proyek infrastruktur strategis senilai 13,6 miliar dolar AS ditandatangani pada Oktober 2018.
Upaya peningkatan peran pasar keuangan sebagai pembiayaan ekonomi dilatarbelakangi oleh kondisi pasar keuangan domestik yang belum dalam. Kondisi tersebut tercermin dari sumber dan jumlah dana untuk pembiayaan yang terbatas. Data lima tahun terakhir menunjukkan sekitar 70% pembiayaan ekonomi bersumber dari kredit perbankan. Sementara itu, jumlah dana untuk pembiayaan melalui pasar keuangan yang merupakan salah satu ukuran tingkat kedalaman pasar, belum cukup besar menopang pembiayaan domestik perekonomian. Dibandingkan dengan negara lainnya, tingkat kedalaman pasar keuangan Indonesia berada di bawah negara peer . Perkembangan ini pada gilirannya membatasi ketersediaan dana untuk pembiayaan investasi, termasuk proyek infrastruktur yang saat ini menjadi fokus pembangunan ekonomi Indonesia.
Kebijakan pendalaman pasar keuangan berdampak positif pada perkembangan di pasar keuangan. Di pasar uang, perkembangan pasar repo dapat tetap mendukung pengelolaan likuiditas Rupiah di tenor yang lebih panjang. Porsi volume transaksi repo untuk tenor 1 bulan ke atas terhadap total transaksi mengalami peningkatan dari 12,5% (2017) menjadi 18,7% (2018), walaupun secara keseluruhan volume transaksi repo pada 2018 mengalami penurunan. Di pasar valas, berbagai upaya sosialisasi telah berkontribusi membangun likuiditas transaksi di pasar DNDF dan mendorong peningkatan posisi CSO. Selain oleh perbankan, peningkatan volume transaksi di pasar CSO dan DNDF turut diikuti oleh partisipasi korporasi nonbank dan investor asing. Hal ini mengindikasikan bahwa pelaku pasar di luar perbankan makin marak dalam melakukan aktivitas lindung nilai. Peningkatan volume transaksi derivatif valas pada 2018 terjadi pada hampir seluruh jenis instrumen derivatif valas. Perkembangan positif juga terlihat di pasar valas yang tetap efisiensi dan mendukung tetap terkendalinya tekanan terhadap nilai tukar Rupiah. Hal tersebut tercermin dari bid-ask spread transaksi spot Rupiah yang berada di level yang rendah yakni dari sebelumnya 5 Rupiah per dolar AS pada 2017 menjadi 7 Rupiah per dolar AS pada 2018, dan disertai volume transaksi spot yangmasihot yang masih cukup tinggi. Upaya mengurangi konsentrasi permintaan domestik terhadap mata uang dolar AS juga menunjukkan perkembangan yang positif, tercermin dari peningkatan penggunaan mata uang lokal dalam penyelesaian transaksi perdagangan melalui skema local currency settlement (LCS). Pemanfaatan skema LCS di Indonesia terlihat pada penyelesaian perdagangan dengan kedua negara mitra yang menyepakati kerja sama LCS dengan Indonesia, yakni Malaysia dan Thailand.
Sumber:
https://www.bi.go.id
Komentar
Posting Komentar